Dialog Sore Hari

“Berhentilah mengeluh.”

“Aku bukan mengeluh. Aku hanya mengeluarkan isi pikiranku. ”

“Isi pikiranmu hanya penilaian-penilaian buruk. Aku lelah mendengarnya. Jalani saja”

“Supaya bisul bisa sembuh kau harus mengeluarkan nanahnya. Kau pun sudah mulai terdengar mengeluh bagiku.”

“Aku tidak mengeluh, aku hanya muak mendengar setiap kata-kata yang kau keluarkan. Sudah seperti ini yang terjadi, kau hanya buang-buang waktu jika terus mengoreksi dan mengoreksi. Mereka tidak memperdulikan koreksimu.”

“Lalu aku harus apa. Aku tidak bisa diam saja saat ada duri yang menusuk jariku. Aku tidak bisa tenang-tenang sementara ada hal yang menurutku tidak benar.”

“Durinya akan hilang sendiri, kau hanya perlu menunggu. Kerjakan saja bagianmu dan apa yang kau bisa. Ikuti saja permainan hidup. Semua indah pada waktunya. ”

“Aku mengerti prinsipnya, tapi aku tak tahan jika harus menunggu. Aku tak bisa diam saja menunggu tapi juga tak tau harus berbuat apa.”

 

***

Aku muak berkata-kata

Tapi apa dayaku ketika aku adalah kalimat

Aku muak bercakap-cakap

Tapi apa dayaku ketika aku hanyalah sebuah dialog

Aku lupa bagaimana harus memulai, terlalu ruwet

***

Obat yang Manjur

Amsal 17:22 (TB)  Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Sepenggal ayat Alkitab diatas kejadian lagi dihidupku.

Hari Minggu kemaren aku sakit. Kepalaku pusing, perutku mual dan muntah-muntah. Gak tau sakit apa.

Belum berobat sudah sembuh.

Iya beneran.

Biasanya kalo sampai muntah-muntah ke level “gak bisa direm” aku harus berobat. Minimal disuntik. Karena bisa seharian muntah ada atau bahkan gak ada yg mau dimuntahkan. Itu kan bahaya, bisa dehidrasi. Apa lagi untuk aku yg tinggal jauh dari keluarga, harus sigap menolong diri waktu lagi menghadapi bencana.

Masalahnya hari Minggu kemaren aku ada acara kebersamaan kantor yg wajib aku ikuti karena aku masuk kesalah satu penanggung jawab kegiatan. Bangun tidur agak kesiangan dan kondisi kepala sakit luar biasa. Berjuang supaya punya tenaga untuk bangkit, malah makin parah dan muntah-muntah. Aku coba istirahat sebentar. :|:|:|

Tapi sayang waktu gak bisa di pause, dia jalan terus gak peduli aku kuat apa enggak. Sampai di tenggat waktu kami harus kumpul. Tenggat waktu ini aku yg tentukan, tapi apalah dayaku yg masih terkapar lemah dikosan.

Setelah lewat 10 menit dari waktu kumpul yg dijanjikan aku ditelpon-telpon.
Haduuuhhh…
Sakit kepala, perut mual dan handphone bunyi-bunyi. Rasanya malah makin bikin mau muntah.
Tapi aku angkat juga.

Riki : “Kak udah dimana?! Udah pada kumpul niiih. Jangan bilang belum bangun.”

Aku : “Aku sakit Kii. Tunggu bentar lagi ya. Nanti aku telpon”

Cuma itu yg sanggup aku katakan. Sambil nahan perasaan gak enak terbayanglah wajah-wajah kecewa kawan kantor.

Sebenarnya ada kak Icha penanggung jawab 1 lagi, tapi dia juga kirim pesan dia telat karena ada yg perlu dikerjakan.
Aku gak bisa komplen untuk pernyataan ini. Aku dan kak Icha sudah hampir 1 bulan full pulang kantor lewat jam terus. Jadi sering gak punya waktu untuk urusan pribadi.

Ngapain dikantor sampai larut tiap hari?!
Kelarin kerjaan yg jadi lambat karena program yg hanya bisa dibuka diatas jam kerja, siapin event kantor yg suka dadakan dan kerjaan-kerjaan lainnya yg setiap hari selalu nambah dan kadang diluar job desk. Belum lagi permintaan untuk acara kebersamaan yg dipercayakan ke kami.

Kalo bukan job desk kenapa dikerjakan?!
Memang bukan job desk aku, tapi berkaitan sama pekerjaanku. Apa lagi kalau sudah perintah Bos, tak bisa dilawan.

Nah balik ke cerita.
Begitu dapat pesan aku sakit, kak Icha agak panik, tapi tetap lanjut jalan ke lokasi. Dia gak bilang panik sih, tapi kelihatan dari bahasa balasan pesan yg aku terima. Jadi aku pikir aku tetap harus datang minimal bisa bantu walau gak full. Jadi aku minta dijemput karena gak sanggup kalau harus naik motor sendiri.

Di perjalanan menuju lokasi aku masih sakit parah. Muntah terus. Kalau ada jalan bergelombang dan yg mengemudi agak-agak ngebut aku langsung merepet, sampe aku bilang.

“Ki bawa mobil pelan aja, anggap lagi bawak orang hamil ya”
😄😄😄😄

Ihh…
Parah banget perut aku disitu. Guncang dikit aja langsung mau muntah. Sempat nyesal karena memaksakan diri untuk tetap ikut. Tapi mau kek mana lagi. Sudah terlanjur sampai dilokasi.

Dilokasi aku masih duduk menyudut, berusaha makan bubur yang kala itu lebih terlihat seperti racun dari pada makanan. Gak termakan juga sih, cuma bisa masuk 3 suap kecil. Tapi udah jago lah itu untuk bahan muntahan. Soalnya sangking kosongnya pahit banget rasanya.😰😰😰

Sambil nunggu aku stabil kak Icha masuk ke game pembukaan acara. Aku lihatin dari jauh.
Waaa…
Seruuu…😍😍😍
Waaa…
Pengen ikuuuutttt…😌😌😌
Waaa..
Mereka ngapaaaaiiiiiinnnn?!!! 😱😱😱

Iyaaa. Ngelihat kawan-kawan padah heboh dengan game pertama aku jadi penasaran. Sangking penasarannya ga sadar aku sudah masuk arena permainan. Cekrek-cekrek dikit. Terus pas sesi berikutnya malah jadi peserta, lupa kalo aku seharusnya gak perlu jadi peserta. 😄😄😄

Permainan yg disusun kak Icha sebenarnya permainan sederhana tapi butuh konsentrasi. Naaah aku jadi kebawa suasana dan terlalu fokus ke acara. Gak sombong, kelompok kami juara 1 waktu aku ikut dipermainan sesi 1.

Selesai itu kak Icha langsung menyadarkan aku akan tugasku sebagai juri permainan bukan peaerta. Berakhirlah statusku sebagai peserta permainan.
Hahaha
Iya, harusnya aku jadi juri lah malah jadi peserta. Tentu lah aku menang. 😄😄😄

Kegiatan berjalan seru banget. Walau pun beberapa diluar elspektasi kami. Tapi kebetulan teman-teman yg ikut memang luar biasa.

Bawaannya ketawa terus.
Salah ketawa.
Benar ketawa.
Lapar ketawa.
Capek ketawa.
Kalah ketawa.
Menang ketawa.
Jatuh ketawa.
Bangkit apa lagi ketawa kekeh kayak gak ada hutang.

1 hari berlalu, dan aku terkejut dengan staminaku dihari itu.
Sehat, lasak, heboh seperti biasa. Kayak gak aku lah yg tadi pagi mau mati itu. 😄😄😄
Gak cuma aku, kawan-kawan yg lain juga heran. Kok sembuhnya cepat banget. Kalo gak lihat aku muntah-muntah pasti mereka pikir aku berbohong.
Aku sudah benar-benar sehat.

Malamnya sambil istirahat aku merenung, dan teringat ayat diatas.
Kalau dicari penjelasan logika mungkin kondisiku biasa. Tapi bagiku ini luar biasa. Aku kenallah dengan badanku.
Aku gak bisa berkata-kata selain bersyukur untuk berkat yg luar biasa di hari itu.

Nah kalian gimana?! Pernah kayak gitu juga?!

Tunas yang Tak Jadi Tumbuh

Ceritaku kali ini akan sangat panjang, mungkin membosankan. Tapi aku perlu menuliskannya untuk menenangkan pikiran atau hatiku. Aku gak tau pikiran atau hatiku yg sedang tidak tenang.

Seorang kenalan lama, laamaaa banget menghubungiku melalui  chat facebook. Sebenarnya pesan pertama sudah lama sekali masuk, tapi karena aku jarang banget buka facebook apa lagi pesan-pesan masuknya, aku baru tahu chat temanku itu beberapa hari yg lalu, itu pun gak kubalas, tapi aku terima permintaannya.

Nah barusan dia chat lagi bilang makasih. Aku jadi gak enak berasa sombong banget, jadi aku agak-agak ajak ngobrol kawan ini. Dia aku kenal dimasa SMP, selain karena 1 sekolah kami juga tinggal dilingkungan yg sama.

Sambil menunggu balasan chatnya aku iseng-iseng scroll kebawah lihat berita-berita di facebook. Isinya masih sama seperti saat terakhir aku lihat. Berita tentang pernikahan dan juga kelahiran. Teman-teman seangkatanku memang rata-rata sudah dan mulai berkeluarga. Awalnya aku masih rajin kasih like, tapi waktu mereka mulai tag namaku diperbincangan yg ujung-ujungnya ke

“Leni kapan?!”

Aku jadi malas kasih like apalagi komentar di facebook.

Aku cuma melihat-lihat saja sekedar tahu berita seputar teman-temanku. Sampailah aku pada 1 foto dengan caption keluarga besar “….”
Aku berhenti.
Zoom, zoom lagi.
Fotonya gak terlalu jelas.
Cek profil pengirim foto, scroll, scroll. Buka komen foto lain.
Terusss…
Terus..
Sampailah aku ke ucapan selamat yg mentagging langsung tokoh utama di foto. Aku masuk ke profil si tokoh utama, dan finish.
.
.
.

Jadi foto apakah itu?!
Harusnya sudah tau dunx jawabnya.
Itu foto pernikahan mantanku yg diupload kakaknya yg kebetulan berteman denganku.
Haha.

Inilah kisahku. Selamat menikmati.

Aku berpacaran dengan si tokoh di foto sejak 2012 dan akhirnya putus beberapa hari setelah aku menginjakkan kaki di tahun 2017. Hubungan kami sudah sangat dekat dengan serius, tapi kami memang tidak jodoh. Juli 2016 dia memintaku mengajaknya bertemu dengan keluargaku untuk mengungkapkan niat seriusnya. Kunjungan berjalan dengan baik. Sejujurnya sih keluargaku memang sangat fleksibel, mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya ke anak-anaknya yg akan menjalani kehidupan. Mereka hanya memberi 1 syarat, kami harus 1 agama dalam 1 keluarga selebihnya mereka tidak mempersoalkan. Saat ditanya kapan rencana kami, aku belum punya rencana tapi dengan penuh keyakinan si pria berkata paling lama bulan Desember 2016.
Wow, aku agak kaget siih. Tapi aku yakin kalau jodoh pasti dipermudah.

Hari berganti minggu lalu menjadi bulan. Tak ada kabar kelanjutan dari kunjungan yg terakhir. Keluargaku sudah sangaaaaat bawel nanya ke aku. Karna mereka tak juga dihubungi oleh keluarga si pria.

Yaaah…
Kami memang bukan dari keluarga yg berada sehingga kalau ada rencana-rencana besar sebaiknya jgn mendadak. Permintaan yg normal menurutku. Beberapa kali aku mengingatkan si pria tentang hal itu. Aku sama sekali tidak ngebet untuk menikah. Aku hanya ingin keluarganya memberi informasi kekeluargaku jika rencana besar itu meleset dari waktu yg diharapkan. Ditunda sampai batas waktu yg tidak ditentukan. Aku sangat mengerti kondisinya yg pada saat itu kurang baik. Mamanya yg bulak-balik masuk RS dan bahkan dia yg juga mengalami patah tulang karna kecelakaan. Semuanya itu menghabiskan banyak biaya. Tapi aku perlu respon keluarganya dari kunjungannya ketempatku, yg sama sekali tidak aku dapat sampai tahun 2016 berakhir.

Akhir tahun aku pulang kerumah orang tuaku untuk merayakan tahun baru bersama. Selesai acara keluarga, seperti dugaanku aku pasti ditanya kelanjutan proses kunjungan 6 bulan yg lalu. Aku menjawab dengan menyampaikan semua alasan logis yg terpikirkanku. Mulai dari mama dan abangnya yg bergantian masuk rumah sakit, kondisi keuangan mereka yg mungkin sedang tidak baik dan bahkan kecelakaan yg menimpa pria itu. Tapi semua dipatahkan langsung oleh si bapak dengan kalimat,

“Leni, yg bicara mulut dan hanya perlu 5 menit paling lama untuk mengatakan rencana harus diundur. Jadi semua yg kau sampaikan bukan alasan.”

Aku sudah memprediksi  pernyataan itu. Tapi masih terdiam gak tau mau jawab apa. Setelah itu mendadak semua keluarga menyampaikan argumen masing-masing ttg kemungkinan-kemungkinan mereka tak menghubungi org tuaku. Kesemuaannya adalah argumen negatif. Aku merasa tersudut dan sangat sedih tapi aku tetap biasa saja dan hanya menampung semua argumen yg masuk. Aku hanya menjanjikan akan menanyakan alasan sebenarnya kenapa tak kunjung ada respon dari keluarga si pria.

Sebelum tidur aku kirim pesan ke pria itu, pesan singkat selamat tahun baru dan  bahwa kami harus bicara. Sampai sore tak ada respon. Keesokan hari baru dia respon pesanku.

Bulan Januari aku kembali ke Pekanbaru. Aku kerja seperti biasa. Malamnya aku dan pria itu ketemuan. Tak banyak basa-basi, aku ceritakan semua pertanyaan keluargaku.  Emosi yg aku tahan tumpah. Aku kecewa karna sebelumnya aku sudah berkali-kali bilang supaya keluarganya ada yg menghubungi org tuaku, sekedar respon saja. Tapi omonganku diabaikan. Aku pikir kami sudah tidak sepemikiran dan aku ingin memutuskan hubungan kami.

Aku lupa detail pembicaraan kami atau urutan fakta yg harus aku sampaikan. Tapi dipembicaraan itu dia bilang bahwa mereka sudah melakukan pertemuan keluarga membahas waktu untuk pernikahan kami. Bahkan sudah membahas gedung mana yg mau dipakai. Dia gak mau putus. Dia minta aku menenangkan diriku dulu. Meredakan emosiku.

Aku tetap pada keputusanku  dan aku langsung konfirmasi berita putus kami kekeluargaku. Tapi dia mengabaikan kemauanku. Dia menganggapku hanya marah dan kalau sudah reda aku pasti normal lagi. Mereka tetap booking gedung. Orang tuanya menghubungi keluargaku. Sampai orang tuaku bingung dan minta aku perjelas lagi karena sudah ada pembayaran untuk gedung yg mau dipakai.

Seperti batu yg sangat keras, keputusanku tak tergoyahkan apapun pernyataan si pria. Aku bahkan menemukan banyaaaak hal yg sepertinya mengarahkan aku untuk semakin menyadari betapa kami tidak cocok. Aku seperti melihat 2 buah tujuan yg tidak pernah sama namun berusaha untuk beriringan hingga harus terpisah disebuah persimpangan. Dan begitulah akhirnya kami benar-benar berpisah. Aku tidak menangisi perpisahan kami. Aku tidak menyesalinya. Aku tidak terlalu memikirkannya.

Kalau membaca ceritaku diatas terkesan aku mengambil keputusan mendadak berdasarkan emosi dan tekanan. Tapi sebenarnya tidak. Jauh sebelum semua kejadian itu terjadi aku sudah merasa kami tidak sejalan. Tapi aku takut itu hanya perasaanku saja. Ada banyak hal yg menjadi tanda hubungan kami tidak sehat. Kami tidak lagi berkomunikasi dengan intens walaupun hampir setiap hari kami bertemu. Setiap pertemuan selalu disisipi pertengkaran. Aku dan dia mulai menimbang keuntungan dan kerugian. Kami sebenarnya lebih merasa nyaman dan merdeka saat sendiri, tapi kami mengabaikan itu dan tetap berusaha bersama walaupun kami akan diam sepanjang kebersamaan kami. Terlalu banyak tanda yg aku abaikan, semua karena aku takut aku hanya merasa jenuh atau stress akibat pekerjaan. Tapi ternyata itu adalah bom waktu. Jika masanya tiba akan meledak dan menghancurkan banyak hal.

Yaaah, walau aku yakin tidak terlalu banyak orang yg terluka. Sejujurnya keluargaku tidak terlalu setuju dengannya tapi mereka tidak punya alasan jelas untuk itu. Mereka juga yakin dengan keputusanku. Mereka percaya dengan pilihanku. Orang tuanya pun tidak terlalu setuju denganku, karena seperti kehidupan keluarga batak lainnya. Keluarganya berharap dia bisa menikah dengan paribannya. Hanya saja si pria selalu menolak semua boru tulang yg diperkenalkan padanya karena ada aku.

Jadi keputusan kami untuk mengakhiri hubungan itu aku pikir tidak terlalu melukai keluarga kami. Tapi siapa yg tahu isi hati manusia yg sesungguhnya.

Nah kembali ke foto yg tak sengaja aku lihat. Foto itu diupload kemaren, namun ternyata pernikahan mereka sudah berjalan 2 minggu yg lalu.

Aku terkejut.
Jujur aku benar-benar terkejut walau ini sudah aku prediksi. Sangking terkejutnya aku sampai gemetar selama sesaat. Aku menenangkan diri dengan menuliskan cerita ini dan ini sangaaaat efektif. Padahal sebenarnya aku tidak punya niat membeberkan kisah cintaku ke tempat umum. Semua orang punya cerita.

Gak ada kewajiban sih dia harus kasih tahu aku kabar baik tentangnya. Tapi mengingat bahkan belum genap 1 tahun kami berpisah, seharusnya dia belum lupa untuk mengundangku. Toh ini kabar bahagia, dan aku bukan anak kecil yg akan merusak acara orang seperti disinetron-sinetron.

Tapi kalau dipikir-pikir aku juga gak tau apakah diundang kepernikahan mantan jauh lebih baik daripada tidak diundang. Padahal aku sudah merasakan keduanya.

Sebelum ini aku pernah menolak lamaran seseorang.
Wajar siih, dia ngajak nikah waktu usiaku 19 tahun.
Ckckckck.
Walaupun sudah masuk syarat karna sudah diatas 17 tahun tapi itu masih terlalu muda menurutku. Kuliahku pun belum selesai pada saat itu. Tapi beberapa bulan setelah aku menolak permintaannya, dia menikah dan aku datang dipernikahan mereka. Karena dia menikah dengan keluarga dekatku. Jadi mau gak mau aku harus wajib datang. Aku tidak merasa sedih pada saat itu. Tapi aku merasa sedikit canggung dan aneh.
Haha

Aku benar-benar tidak menyesali keputusanku. Aku yakin ini adalah salah satu warna kehidupanku. Walau aku tahu keputusan besar itu akan berdampak panjang. Lebih mudah bagiku untuk menjalin pertemanan daripada percintaan.

Akhir cerita, semoga mereka bahagia sampai akhir hayat. Dilimpahi berkat yg melimpah dan juga penuh sukacita.

Menunggu cinta tumbuh memang mendebarkan. Namun menjaga cinta tetap tumbuh dan berkembang jauuuh lebih mendebarkan dan sulit.

Undangan Menggiurkan

Hari ini aku meliburkan diri. Sudah hampir 1 bulan ini aku pulang kantor lewat jam kerja secara cuma-cuma dan sukarela. Iya gak ada uang lemburnya.😌:|
Kebiasaan baru pulang lewat jam kerja ini disebabkan oleh program kerja yaaaangggg lemoot banget dan malah gak bisa dibuka sama sekali di jam kerja. Baru bisa berjalan lancar kalo udah lewat jam kerja. Jadi mau gak mau aku pulang sore sampe malam. Siang kerja manual, sore input data ke program. Gitulah terus selama 1 bulan.
Lelah adek.:(:(:(

Jangan bilang aku gak pernah komplen ke IT. Aku ratu komplen soalnya. Tapi memang ada hal-hal yg diluar kuasa mereka kayaknya. Padahal aku biasanya memuja-muja divisi IT yg menurutku super hebat.
Cuma ketak-ketik ini dan itu masalahku bisa kelar. 😁😁😁
Cuma lihat huruf-huruf dan simbol-simbol dilayar hitam masalahku bisa kelar. 😱😱😱
Gak perlu ketemuan dia remote dari jauh juga masalahku bisa kelar. 😍😍😍
Ya ampuuunn hebat banget yaaa. Udah gitu IT dikantor kebanyakan agak polos-polos dan lugu-lugu. Entah itu sifat asli atau cuma didepan kami aja gak tau lah. Yang jelas aku suka ngusilin mereka atau ngajakin mereka mengheboh keluar dari dunia IT nya. Hahahha…
Kapan-kapan aku cerita tentang IT kantor deh.

Selain karena program yg lemot, bulan ini kantor punya banyak event yg semuanya berurusan dengan ulang tahun. Awal bulan kami buat event jualan yg temanya kegiatan sosial bulan ulang tahun. Tengah bulan si Bos tiba-tiba ulang tahun. Naaah akhir bulan atau tadi malam kantor ulang tahun. Dan untuk semua acara itu aku yg ditunjuk jadi ketua panitia sekaligus seksi-seksinya. 😥😥😥

Memang siih ada bala bantuan dari divisi lain, tapi tetap segala sesuatunya berpusat ditanganku. Iyaaa. Apa lagi dengan bos yg super sibuk dan pelupa seperti yg dulu sering aku bicarakan, harusnya urusanku bisa gampang tapi malah jadi super ribet karna dia.

Jugulnya minta ampun. Gak percaya sama orang hidup. Kalo ngomong sama dia harus pake bukti-bukti kongkrit, pembanding-pembanding yg jelas dan pasti adu pendapat minimal 15 menit. Jadi kalo aku ada tamu tapi lagi dipanggil si Bos akunya, bagus tamunya pulang ajalah dulu. Kasian soalnya, bisa nunggu sampe lama kali.
Haisss. Kami gak pernah 1 ide. Tapi tetap dia nanya pendapat aku juga.

Oh, yg untuk ulang tahun si bos itu ada percakapan yg lucu dari si bos yg usianya udah genaaaap, tunggu aq wa temen dulu.
Lupa soalnya aq dia umur berapa. 😄😄😄
Dia usia 34 tahun.
Ckckckckck.
Hari H dia ulang tahun dia harus ke Jakarta untuk training dan test drive produk baru. Jadi dia berinisiatif buat acara H-1 dengan cara yg unik. Di sore hari yg sibuk dia call aku..

Boss : “Leni kalian sibuk gak ya sore ini?! Ada janji gak ya?!”

Aku  :”Janji?! Kalian?! Kami CCO Pak?!”

Agak kaget soalnya gak tau apa-apa dan lagi sibuk-sibuknya tiba-toba ditanya janji. Ya jelas gak punya lah.😄😄😄

Boss :”Kalian semualah. Sore ini ada janji enggak?!”

Aku  :”Kalo saya sih gak ada rencana apa-apa Pak, gak tau kalo kak Icha tapi bisalah Leni tanya pak. Kalo yg lain Leni gak tau pak. Ada apa ya?!”

Boss  : “Coba kamu tanyain deh ke semua karyawan yaa. Saya mau ajak makan Mie. Kamu tolong data siapa yg bisa ikut dan buat reservasinya ya. Kita makan di Golden Tulip aja, ambil paket noodle housenya tadi saya udah telpon, coba kamu telpon lagi. Jangan lupa negoin lagi ya.”

Aku  :”Untuk sore ini ya Pak.”

Itu aku jawab dengan amat sangat datar karena sambil mikir nyelesaikan kerjaan dulu apa ngerjain tugas si bos dulu.

Boss : ” Iya sore ini. Cuma makan mie aja ya leniii. Gak ada tema khusus yaaaa. Makan ajaaaa looooo”

Kenpa nada bicara si Bos jadi centil malu-malu gitu?! Aiiisss… Aku langsung sadaaaar, tanggal berapa iniii. Astagaaa besok dia ultah dan mau ke Jakarta sorenya. Waaah pasti inilah traktirannya. Aku langsung mau ketawa saat itu juga. Aku rasa dia bisa merasakan aku nahan ketawa sambil jawab.

Aku: “Iya Pak. Makan mie di Golden Tulip dan gak ada tema apa-apa kan ya. Leni cek berapa orang yg bisa ikut ya Pak.”

Boss :”Oke deeh. Tolong bantu saya ya Leni. Ini gak ada tema apa-apa sih, saya cuma mau makan bareng aja. Dibantu ya, jgn lupa dinegokan juga”

Aku:”Siap Pak.”

Siap itu aku langsung ketawa, yaelaaah si Bos pake malu-malu segala. Kalo gak ada tema ya gak usah ditekanin berkali-kali gitu laaah ah. Untung aku cepat nangkap maksudnya. Kalo aku tetap pasang ekspresi datar kan gak lucu.😄😄😄

Nah kembali ke aku yg hari ini meliburkan diri. Sebenarnya siih ini keadaan terpaksa dimana aku sepertinya sudah dengar alarm pagi, tapi kok berasa masih mimpi. Padahal tidur udah gak nyaman karna berisik, dan kayaknya tanganku refleks matikan alarm pagi tadi. Jadi sukses lah aku tidur sampai jam 9 pagi. 😱😱😱

Gak mungkin aku ngantor lagi. Hari ini cuma masuk sampe jam 1 siang aja, kalo aku beberes paling cepat jam setengah 11 aku nyampe kantor. Kan gak lucuuuu. Lagian tadi malam aku udah over banget kerja, pulang kantor jam 11 malam sampe rumah udah hampir jam 12. Jadi gpp lah aku libur ya Boss. ;););)

Lagi asik-asik bergelung di selimut yg kalo pagi makin lembut rasanya masuklah pemberitahuan WhatsApp (WA).
Haiiisss, jangan bilang si Bos nyari. Haaa ternyata enggak. Hehe kepedean. Ternyata kakak ku yg WA. Dia kirim 3 gambar dan 1 video. 1 ayam kampung, 2 nenas, dan ke 3 gambar dan video keponakanku si Bintang.

Gambar 1 dia bikin caption,
“Maenlah kerumah anteee, biar buat sate taichan kita”
Astagaaa, lapar.

Gambar 2 captionnya,
“Makan sate taichan udah siap itu ngerujak nanas hasil panen sendiri enak gak ya dek?!”
Pertanyaaan yg menggugah selera.

Gambar ke 3 dia tulis caption,
“Anteeee Bintang udah bisa telungkuuuuppp” lengkap dengan video lucu si keponakan yg telungkup sendiri dan emosi karna gak bisa balikkan badan. 😠😠😠

Haaaaa…
Kakaaakk kuuuu….
Dia tau bangett cara menggoda akuuu.
Galaaauuu….
Aku kan pengen santaaaiii duluu. Cuaca lagi panas banget untuk keluar rumah. Rumah kakak ku diluar kota, butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai kesana.
Tapi undangannya menggoda sekaliii…

Kakak kelen ada yg kayak kakak aku gak siiih. Suka mengundang aku maen dengan cara-cara yang unik dan tidak terbantahkan.

Aku menyeraaaaahhhhh….
Hahaha…
Happy Weekend ajalah dari aku untuk kalian semua.

Note.
Jugul  : Keras kepala, biasa dipakai oleh suku batak

Segelas Hitam Kopi Hitam Pekat

Hai para pekerja…
Hai para karyawan tetap atau kontrak atau magang…
Hai para tenaga halus, kasar, lunak, keras..
Hai para pencari kerja…
Apa kabar? Semoga luar biasa.

Salam macam apa itu?!

Oke, tulisan ini 100% bukan tentang lowongan pekerjaan, atau tentang jenis-jenis pekerja, atau filosopi bekerja dan sejenisnya.
Ini hanyalah…
Ini adalah…
Maaf aku gak bisa isi titik-titik diatas ,karna aku gak tau ini tulisan apa.

Pagi ini berat banget, seberat kelopak mataku yang maunya nunduk terus. Bukan karena bulu mata yg berat, karena bulu mataku pendek dan tipis, gak lentik, dan gak bisa dipamerkan. Gak juga karena eyeshadow yg tebal, karena kelopak mata aku juga masuk kategori kecil dan tipis jadi harus bisa dibayangkan setebal apa eyeshadow yg bisa aku contrengkan.

Mungkin ini sifat rendah hati si kelopak mata.
Rendah hati, your eyes!!! #Matamu!!!
Aduh, aku mulai mengumpat dengan kacau. Maaf. Aku cuma mencoba jadi sopan.
Sopan gak memaki dekkuuuu…!!!
Ah sukak mu lah.
Maaf aku mulai ngawur dan gak tentu arah.
Ok serius.

Hari ini aku ngantuk berat. Ini gara-gara drama korea yang aku paksa tonton sampai 4 episode yg mana setiap episodenya itu berdurasi 1 jam, jadi total 4 jam. Start nonton dari jam 8 malam, dengan jeda beberapa menit untuk mandi, buka media sosial, mengunci pintu, minum dan kegiatan selingan lainnya. Jadilah aku tidur diatas jam 12 malam, lupa jam berapa tepatnya. Paginya entah kenapa aku bangun jam 6 pagi, padahal biasanya jam 6 lewat banyak atau malah jam 7. Lebih anehnya lagi bangun tadi pagi langsung bangun, dan kepala langsung kerja menyusun rencana pagi, padahal bisanya selalu “5 menit lagiii”.

Refleks “bangun langsung siaga” itu harusnya kemaren-kemaren waktu si Big Boss datang atau kemarennya lagi waktu si Super Big Boss datang, karena banyak yg harus disiapkan gak cukup dengan pulang malam harus ditambah dengan datang cepat baru kelar. Hari ini seharusnya aku bisa santai dikit untuk membalas lari-lari kemaren.

Mengantuk tapi gak bisa tidur (kan gak mungkin aku tidur dikantor), itu bikin kepala sakit. Jadi aku putuskan untuk pesan kopi hitam ke OB.

Aku :”Dessi, tolong buatin aku kopi hitam yang kental ya. Tapi ada manisnya ya. Pahi-pahit manis gitu lah.”
Dessi :”Kopi hitam kental ya Bu. OK”
Aku :”Makasih Des”

Beberapa menit kemudian…

Dessi :”Bu ini kopinya, kalo kurang manis bilang ya Bu”
Aku :”Loh kok gelasnya hitam? Gelas kopi aku mana?”
Dessi : “Kotor Bu, tadi pagi dipake sales kayaknya”
Aku :”Kok boleeh? Aku gak suka pake gelas orang”
Dessi :”Mereka ambil sendiri Bu. Itu gelas Bu Gita kok Bu, saya tadi sudah bilang, gak papa katanya.”
Aku :”Aku gak suka gelasku dipake Des, apalagi ini gelasnya hitam. Masak minum kopi hitam pake gelas hitam?”

Oke, sampai disini si OB mulai memandang aku dengan tatapan aneh. Kening berkerut, mulut sedikit manyun, tangan mengepal dan mata menyipit. Cok kelen bayangkan kek mana bentuknya. Dibayangkan ajaaa, gak usah dipraktekkan looo….

Aku :”Besok-besok gelasku disimpan ya, jangan pinjamin kesiapa-siapa tanpa setahu aku.”
Dessi :”Ok Bu.”

Dia memilih menyudahi percakapan dengan mengiyakan saja mauku. Aku masih memandang si kopi hitam yang semakin hitam karena gelasnya yang hitam, sedikit aku cicip dan rasanya begitu hitam kelam, pahiiiit. Astaga, biasanya si Dessi ini buat kopi gak pernah sepahit ini, pasti ini karna gelasnya yg hitam nih.

5 menit sesudah diminum, kayaknya kopinya ngefek. Kepala mulai normal dan mata mulai ringan. Tiba-tiba aku kepikiran dengan percakapan tadi. Kok kayaknya familiar ya?! Aku inget-inget lagi situasi yang familiar dengan percakapan tadi.
Kalok bisa ditayangkan, rasanya isi kepalaku sibuk buka file-file memori yg lama. Seperti ada flashback, kejadian-kejadian kecil dikantor.
Astaganaga!!!
Matilah.
Ituuu, biasanya yang rewel kayak gituuu kann, si Bos.
Sepertinya aku mulai ketularan rewel si Bos yang aneh.
Sejak kapan pulak aku mulai rewel dengan jenis dan warna gelas yg aku pakai?!
OK, kalo warna gelas aku memang gak suka gelas warna gelap, tapi biasanya itu aturan untuk aku aja, gak untuk diinfokan untuk umum.
Terus kenapa pulak tiba-tiba aku jadi pelit lebay gitu?!
Pantes aja si Dessi tadi pake berkerut gitu keningnya memikirkan pernyataanku.
Ckckckckck

Dasar rewel!!!

Tulisan Tanpa Tinta.

Beberapa orang memanfaatkan senioritas untuk menumbuhkan kuasa dan mengintimidasi.
Senioritas dikeluarga.
Senioritas dibangku sekolah.
Senioritas ditempat kerja.
Senioritas ditempat umum.
Senioritas disuatu daerah.
Senioritas umur.
Oh, bahkan senioritas laju timbangan.
Ups.

Beberapa waktu belakangan ini aku merasa sangat terintimidasi oleh situasi dan pandangan beberapa orang disekitarku yg pastinya lebih senior dari aku. Ada banyak situasi yang memaksa aku untuk menurut, memahami atau mengerti dan mengabaikan pandanganku sendiri yg kebanyakan berlawanan dengan kemauan mereka pada situasi itu.

Ada terlalu banyak argumen yg dilempar kepadaku dan secara otomatis akan kubantah. Refleks membantah ini sering lupa diri dan tempat dan kadang membahayakan. Tapi, mau gimana lagi?! Sulit terbendung. Padahal aku paham banget kalau aku langsung nurut, iya, ok, siap, suai, cocok, masalah langsung kelar. Tapi entah kenapa mulut ini lebih milih berdebat dari pada berdamai.

Aku tau aku terlihat egois dan keras kepala. Bahkan beberapa menilai kekanakan. Tapi apa benar kedewasaan ditakar dengan seberapa penurutnya seseorang?! Apa kedewasaan bisa disebandingkan dengan seberapa besar kita memahami, bukan, lebih tepat menolerir situasi dengan “setuju”?! Apa salah kalau seseorang yg punya pemikiran berbeda menyuarakan pemikirannya?!

Damai dekat dengan tenang, sunyi dan bisa berarti diam. Tapi jika terlalu damai maka rasanya sepi dan kesepian. Maka aku pikir berdamai secukupnya saja.

Sore tadi ada moment intimidasi lagi.
Hmm…
Mungkin bukan itu tujuan awal dari dialog kami. Mungkin dia hanya ingin bercanda awalnya. Namun seperti yg selalu kupahami, bercanda adalah jujur yg sopan. Aku tau dia ingin menunjukkan kuasa senioritasnya dengan argumen tak masuk akalnya. Argumen yg menurutku tak relevan dengan situasiku. Seperti membandingkan situasi anggota dewan dan buruh harian saat menangani flu. Gak cocok looo…

Wajar kalau aku menolak dan mematahkan semua argumennya. Tak terima dipatahkan didepan forum (dia bilang kami tadi membentuk forum yg isinya 3 org dengan dengan tema bicara yg sangat sederhana) dia langsung menggunakan senioritas dan kuasanya.
Weeewww….
Woles brother!!
Berharap aku akan terintimidasi dan menurut dengan argumennya dia memintaku bicara 4 mata saja. Cuci otak. Itu pandanganku. Panjang lebar dia menjelaskan maksudnya. Sebagian fokus dengan topik sebagian lari kekanan dan kekiri.
Ah aku benci situasi seperti ini. Aku mengerti situasi ini dan apa yg sebaiknya aku lakukan untuk melindungi diri.

Tapi sekali lagi, hati dan ekspresiku terlalu kompak. Mulut sih udah diem, kepala angguk-angguk, geleng-geleng. Tapi mata dan ekspresiku tidak bisa bohong.

Dia tau. Dia hilang akal. Dia pintar. Dia pancing aku dititik yg pas.

Lalu muntahlah argumenku sekali lagi. Dengan berapi-api dan sedikit bergetar aku bicara. Air mata emosi muncul setitik.

Waduuuhhh Leni kalah.
Gak sampai ngalir tapi kelihatanlah mata yg berkaca-kaca menumpahkan emosi ini.
Waahhh.
Aku lihat senyum kemenangan nyaaaa.
Aku kalaaahhh.
Haaahhh…
Keseeelll. Aku benci dibilang/dianggap cengeng.
Harusnya kan aku bisa pergi dengan cool. Tapi yaa sudahlah. Setidaknya kan aku gak langsung kalah. Ada perlawanan dulu.

Pada akhirnya sih kami berbaikan, dia minta maaf dan itu berulang-ulang padahal udah ku bilang juga iya berulang-ulang. Dia merasa bersalah. Aku juga. Ternyata kalau dipikir-pikir itu cuma masalah sepele. Kenapa aku sengotot itu dan membahayakan diriku dengan refleks bodohku.

Tapi mungkin ini salah satu bumbu untuk memperindah hubungan senior-junior. Biar lebih berwarna dan ada cerita.

Ah, harusnya curhat panjang ini hanya kutulis dikertas tanpa tuan saja. Tapi apalah daya pulpen habis dan aku malas keluar buat beli pulpen. Padahal aku sudah separuh menulis dan baru bisa puas kalau aku tulis pikiranku. Pergilah roh malas!!!

Ngapain?!

Masih pagi sekali, 09.53 am tapi rasanya ngantuk banget.

Gak pernah.

Gak pernah kayak gini sebelumnya.

Haduuuuhhh… boring banget. Mungkin ini efek libur yang sudah semakin dekat, tapi juga serasa jauh banget dan gak nyampe-nyampe.

Hari paling membosankan di bulan ini.

Ingin cepat berlalu 1 hari ini, tapi untuk apa? Gak ada yg dikejar.

Ingin lambat bergerak hari ini, juga untuk apa? Gak ada yg ditunggu.

 

 

Menulis tidak menolong apapun kali ini. Mungkin aku perlu buat keributan niih biar lebih greget,

Suka-suka Kalian Saja.

image

Aku terbiasa hidup seperti pelangi. Merah, hijau, biru, kuning, ungu dan hampir semua warna.
Tak pernah sedih sampai hanya sedih saja.
Tak pernah bahagia sampai hanya bahagia saja.
Tak selalu tenang, tak selalu ribut.
Sebentar tertawa. Sebentar diam. Sebentar ngamuk. Atau malah kombinasi ketiganya secara bersamaan.

Beberapa orang pernah bercanda ke aku dengan bilang…

“Leni, kayaknya kamu perlu tes kejiwaan.”

Ok. Mungkin itu cuma bercanda. Tapi siapa yg bakal biasa aja kalo dicandain kayak gitu bukan dengan satu orang. Tapi emang waktu dicandain 2 atau 3 kali aku biasa aja. Malah kupanasi balik pun.

“Eh, gak tau nya kam (kam: sebutan kamu dalam pengucapan suku karo, salah satu sapaan yg aku suka) kalo aku rutin priksa kejiwaan. Lebih sering geser daripada bener soalnya”

Nah itu biasanya tanggapan ku. Trus ketawa-ketawak lah kami nanti, kayak udah gak punya hutang lagi di kedai-kedain namboru. Bahagia kali.

Nah pas udah ke-5 kali, pas pulak yg kasih komentar level diatas aku secara usia dan posisi. Wew. Becanda juga sih. Tapi kadang aku mikir bercanda adalah salah satu cara mengungkapkan isi hati yg jujur dengan cara yg sopan.
Jadi aku tanya lah kenapa.

Pak E: “Leni, kau udah bisa tes kejiwaan kayaknya. Udah parah ku tengok” udah ngomong gitu ketawa-ketawa lah ya kan dia.

Aku:”Ah bapak ini. Memang separah apa pak, kok sampe harus priksa?” Aku pura-pura becanda padahal serius.

Pak E:”Iya, baru 5 menit yg lalu kau ngamuk-ngamuk dengan si Kawan, sekarang udah ketawa-ketawa kalian. Padahal tadi kayak setan ngamukmu.”

Aku:”Yaaaa, kek mana lah pak. Udah kelar kasusnya. Masak aku masih marah-marah juga.”

Nah, kebanyakan memang yg nyuruh aku tes kejiwaan itu kalo digali alasannya kayak gitu. Perubahan emosi yg mendadak. Padahal gak membahayakan lah menurut ku.

Yaah kalo masalah udah kelar ngapain masih emosi ya kan? Kadang-kadang memang ada satu hal yg terjadi di waktu dan tempat yg gak pas dan menyebabkan ledakan besar.
Misal.
Pas aku habis kena marah karena kesalahan yg bukan aku penyebabnya ada pula yg bikin masalah ke aku. Emosi pertama belum kelar udah masuk pula emosi kedua. Kumpul dulu. Belum disiram pake es, datang pula berita gak enak. Pas kali laaah. Ada yg nyenggol langsung bacok. Saaaapppp….
Nasib mu laaahhh lewat ditempat dan jam yang gak pas naaakkk…
Hahahaha…

Nah, satu hal yg aku pelajari walau belum lulus. Emosi orang itu punya model. Rata-rata modelnya seperti gunung.
Naaaaiiiiiiiiikkkkk…..
Puncaaaakkk….
Terus.
Turuuuuuuunnnnn….
Udah. Rata.

Gak ada emosi yg benar-benar naik terus. Atau puncak terus. Pasti turun. Ilmu ini dipelajari dengan banyak mendengar komplen dan kemarahan customer ditempat kerja. Kebanyakan mereka kalo udah ngamuk gak bisa diapa-apain, cuma bisa didenger dulu sampe semua lahar emosinya keluar. Kalo udah masanya turun baru boleh masuk saran dan kawan-kawannya.

Naaah. Untuk aku. Ritmenya agak dipercepat. Sumbu pendek. Kompor gas. Meledak-ledak.
Naik. Puncak. Turun.
Simpel loh. Tapi banyak ternyata yg bingung dibuatnya. Banyak juga yg gak terima. Aku jadi mikir emang ritme seperti itu salah ya?! Atau abnormal gitu?! Bukannya malah bagus toh. Aku jadi gak pendendam kesannya.

Yaaahhh. Memang ada juga aku temui orang yg semarah-marahnya level mengamuknya masih seperempat level marah aku. Manajemen emosinya bagus. Atau mungkin dia gak tau cara berekspresi. Dikantorku ada yg kayak gitu. Jadi amarahnya seperti gak muncul, dan keseringan digampangin orang. Aku salut sama yg kayak gitu. Sumbunya panjang kali. Slow motion terus. Emosinya gak pernah sampe puncak udah langsung nguap.

Menurutku ritme atau pola emosi setiap orang hampir sama berdasarkan darimana dia berasal. Tapi gak patokan pasti juga sih, ada yg meleset juga kok. Misalnya, aku si wanita batak yg memang terkenal adalah suku yg kebanyakan terlihat mudah emosi karena suaranya yg kuat cara bicara yang kasar dan ekspresif. Padahal maksudnya bukan mau marah, cuma itu pembawaan aja. Tapi ada juga dikantorku wanita batak yg, aduuuuhhhh gak pernah kelihatan emosinya. Pendiaaaaaammmmm banget. Pemalu juga. Ah pokonya sering gak sadar aku kalo dia ada. Hahahahaha.

Tapi mungkin aku salah. Pola emosi gak bisa jadi patokan untuk menentukan suku atau asal seseorang. Karna banyak sekali faktor yg mempengaruhi prilaku seseorang.

Teringatnya tadinya aku bukan mau ngebahas ttg emosi kian. Tapi entah kenapa jadi merembet pula kemana-mana. Maklum lah. Namanya juga nulis asal.

Eh, tapi teringatnya kan. Kata kawan-kawan kantorku, aku sekarang sedikit lebih tenang. Gak terlalu meledak-ledak seperti dulu. Terkesan agak cuek.
Nah kan, serba salah awak jadinya kan. Kemana salah aja kayaknya. Semua dinilai. Tapi gak papalah, aku anggap itu bukti kepedulian mereka ke aku. Serasa-serasa seleb yang sering dikepoin jadinya.

Ada juga gak ya yg emosinya sering dipertanyakan kayak aku?!

27

Sebenarnya aku malas sekali nulis malam ini. Aku capek bangeeett.
Tapi aku harus nulis malam ini, gak boleh ditunda besok. Momentnya udah gak pas kalo ditunda lagi, dan aku pikir ini wajib sebagai bentuk apresiasiku untuk perhatian mereka ke aku.

Hari ini aku ulang tahun ke-27. Ehm.. Udah agak banyak yaaah…
Hahahaha…
Iya. Aku tau. Udah tua.

Ulang tahun hari ini berbeda dari bisanya. Sejak tinggal jauh dari orang tua aku sudah membiasakan diri untuk tidak menspesialkan hari ulang tahunku. Karna kadang suka mellow sendiri kalo sadar ulang tahun jauh dari sodara dan sendirian. Berasa sedih banget. Nah karna itu biasanya aku selalu menonaktifkan semua notif ultah disosmed dan dimana pun. Selain tidak perlu sedih memikirkan menyedihkannya ulang tahun sendiri, aku juga menghindari perasaan terbeban dengan berapa banyak org yg perduli dengan aku melalui ucapan mereka. Pemikiran yang aneh memang. Tapi begitu adanya, dan baru kali ini aku berani mengakuinya. Well…aku sudah besar, 27 tahun loooh.

Karna situasi dan pemikiran seperti itu, sudah pasti ulang tahunku jauh dari yg namanya perayaan dan sejenisnya. Walaupun sesekali tanggal itu bocor dan mau tak mau aku menerima ucapan selamat dengan berbagai cara, taulah budaya selamat ulang tahun dikalangan “chili-chilian”.
Hiii…
Seram tapi lucu juga.
Aku pernah dilempar telur dan tepung sampai mau muntah sangking amisnya, dan parahnya itu dilakukan di gereja. Memang setelah ibadah selesai.
Tapiiii, aku maluuuu…
Aku yg selalu berusaha tampil anggun dan elegan menjadi aku yg berantakan. Mau nangis tapi gak tega dengan usaha dan perhatian mereka ke aku.

Pernah juga, aku tiba-tiba dilumuri pasta kue murahan yg berwarna-warni di kampus, tepat sebelum jam praktikum dimulai, yg artinya lab lagi ramai dengan banyak manusia.
Omegot.
Aku maluuu…
Tapi aku bisa apa, mereka terlalu banyak, menyerang dari segala penjuru. Tapi lagi-lagi aku gak mungkin marah, itu adalah bentuk sayang mereka.

Niat banget mereka cari tanggal lahirku, dan entah bagaimana aku selalu tertipu dan masuk jebakan mereka dengan mudah. Aku terlalu mudah percaya karna mereka temanku.

Nah hari ini pun seperti itu. Tapi kali ini kejutan yg aku dapat lebih manis. Umur memang membantu mengubah pola pikir orang.

Tadi pagi aku berangkat kerja seperti biasa. Sempat lupa dengan kenyataan kalau hari ini ulang tahun dan lebih fokus dengan dateline kerjaan yg dipercepat 2 minggu karna ATPM mau libur lebih cepat. 😠😠😠
Aaaahh… Inget dateline bikin aku kehabisan tenaga lagi.πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

Aku tau aku terlambat. Jadi aku buru-buru turun dari parkiran dan gak sadar dengan signal-signal jebakan yg ada disekitarku. Aku jalan dengan buru-buru dan kepala penuh plan untuk kerjaan 1 hari ini. Sampai depan ruangan, pintu ditutup.

“Ah.. Kak Icha belum datang”

Aku dorong pintu, dan langsung terlonjak kaget mendengar jeritan rekan-rekanku yg sudah kumpul bergelap-gelap ria di ruangan ku yg kecil banget itu sambil nunggu aku datang.

“Surpriiiiiisssseeeeee!!!! Happy birthdaaaaaayyyyyy!!!!

Astagaaa… Kageeeettttt.

Hahahaa
Mereka kayaknya datang pagi banget, untuk memastikan langkah kakiku masuk dengan tanpa belok-belok kesana-sini dan menjerit tepat waktu aku buka pintu. Pake kontek-kontekan dengan security dan para karyawan di counter.
πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Hahahaha…
Ini pasti kerjaan kak Icha…
Dia ahlinya.
Aku benar-benar kaget sampe gemetar karna jantungan dan bengong bentar. Untuuung hari ini beneran aku ulang tahuuuun looh kak. Makasih banget untuk kejutan yg sangat mengejutkan padahal aku tahu kalian juga lagi banyak kerjaan sama seperti aku. Tapi masih sempat-sempatnya kumpul-kumpul cantik untuk ulang tahunku.

Makasih buat semua doa baiknya.
Top 1 doa tentang jodoh (resiko usia)
Top 2 doa tentang umur panjang (doa wajib)
Top 3 doa tentang karir (doa penyesuaian posisi)
Semoga doa baiknya terkabul.

Makasih juga buat kak Icha yg jadi ketua panitia repot ngatur sana-sini dan pasti datang pagi-pagi padahal biasanya kita sebelas duabelas kalo masalah telat ngantooorr…
πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

Makasih buat Mama untuk jalan lahirku dan kasihnya membesarkanku dan paling pertama ngucapin. Makasih buat adek-adek ku yg juga pakai cara unik masing-masing cuma buat bilang selamat ulang tahun kekakaknya yg jarang pulang ini. Hahahha….
I miss you so much…
😘😘😘😍😍😍

image

image

image

Sebenarnya malu banget dengan foto diriku hari ini. Aku tanpa alis, eyeliner dan eyeshadow berasa telanjang. Tapi apalah dayaku yg sedang terlalu terkejut untuk sadar muka masih kayak lapet pulut buatan inang-inang dipasar.
πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Baru Pertama Ya Dek?!

Hari pertama di bulan Juni. Bulanku.

Pagi-pagi tamu ku sudah sibuk beberes dan masak untuk sarapan.  Padahal keberangkatannya masih 3 jam lagi. Tiket sengaja udah di check in kan biar gak terburu-buru, tapi tetep aja dia heboh. Maklum, ini penerbangan pertamanya.

Penerbangan pertama.
Kesan pertama.
Rumah pertama.
Kerjaan pertama.
Hari pertama.
Anak pertama.
Pacar pertama.
Semua hal yg pertama kali dikerjakan pasti dianggap serius, ditandai dan diingat.
Kadang-kadang ini juga moment unik atau konyol.

Karna ini penerbangan pertamanya aku harus detail menjelaskan dia harus kemana dan seperti apa. Pengen sih kuusilin, karna dia pasti percaya aja.

“Kak boleh pake pita kalo naek pesawat?!”

Hehe…
😎😎😎

“Gak boleh dek. Nanti gak lewat detektor logam”

“Waah iya yaaa kak. Jadi kek mana rambutku ini, masak bersurai-surai kayak gini?!”

“Mau gimana lagi? Daripada gak boleh terbang?”

Hahaha…
Beneeeerrr pitaaa masuk koper.

“Dek jangan lupa siapin KTP atau SIM ya, nanti dicek soalnya”

“Yg asli kak?! Apa perlu kusiapkan fotocopyannya?”

“Fotocopyan?!” Tanyaku kebingungan.

“Iya. Gak diminta orang itu fc KTP ku kak?”

“Yaa ampuuunn deeekkk, kok gak sekalian kam siapkan pasfoto 4×6 2 lembar, sama surat keterangan RT/RW!. KTP/SIM itu cuma ditunjukkan aja looo untuk ngecek data tiket mu bener apa enggak.”

Hhahahaha…
Ini pernyataan paling parah yg aku dengar.

Dekkkuuu…dekku…
Polosnyaaaa…
Harus detail ini kayaknya kasih info biar gak diusilin orang di kota sana.

Haaaa…
Hal pertama memang punga cerita sendiri-sendiri.